Diberdayakan oleh Blogger.
YouTube facebook twitter instagram Email

Mad Belbie



Hello, Belbies! How are you?? Masih tetep imut kan? Heuheuheu. 

Oke, setelah beberapa hari yang lalu aku posting tentang Cara Aman Bleaching Rambut Sendiri, sekarang episode lanjutannya yaitu: mewarnai rambut sendiri. 

Sebelum membahas itu, aku mau klarifikasi dulu. Di postinganku soal bleaching itu aku emang bilang aman dan nggak merusak rambut. Sebenernya nggak persis seperti itu ya, karena namanya bleaching rambut di mana-mana pasti tetep ‘merusak’ rambut. Nggak peduli semahal apapun bleachingnya. 

Secara sederhana sih, rambut itu kan silinder utuh, nah dalam satu lingkaran silinder itu tadinya penuh dengan berbagai macam hal termasuk pigmen warna. Nah, bleaching menghilangkan pigmen warna tersebut, jadi otomatis ada bagian yang hilang dan membuat silinder rambut itu jadi ‘kopong’. Makanya rambut yang udah dibleaching itu cenderung jadi lebih rapuh dan mudah patah.

Jadi kalau kamu sayang rambutmu dan suka rambut panjang yang cantik, sebenernya aku nggak saranin untuk bleaching kecuali kamu emang pengen warna-warna aneh yang emang harus melalui proses bleaching dulu biar jadi. 

“Tapi kan aku pengen warna rambut yang unyu-unyu gitu, Pelle. Aku mau warna rambut pink pastel, warna rambut mermaid, warna rambut unicorn, warna silver, warna putih.”

Kalau lihat foto-foto rambut para gadis di instagram emang menggiurkan. Warnanya bagus, bisa warna-warni mulai dari yang pastel sampai yang ngejreng banget. Tapi dilihat dulu ya, itu rambut asli mereka apa. Kalau dasar rambutnya udah warna pirang, pakai warna kayak pink itu udah gampang aja langsung masuk. Kalau mereka pengen putih atau silver, tinggal bleaching sekali trus pakai purple shampoo juga udah jadi. 

Beda sama yang warna rambutnya gelap banget, kayak aku. Warna rambut alamiku itu coklat gelaaaap banget menuju hitam. Iya, nggak seratus persen hitam banget kayak orang Jepang. Jadi kalau aku mau warna-warna Barbie atau unicorn, aku bleachingnya harus berkali-kali, pakai developer volume tinggi. Kalau mau rambut silver atau putih, masih harus berkali-kali lagi. Begitulah. 

Tapi aku enggak masalah, karena aku nggak keberatan ‘merusak’ rambutku. Aku tipe yang santai aja. Buatku, hidup terlalu singkat buat rambut yang biasa-biasa aja. Aku mau nyoba semua warna. Kan cuma rambut. Ntar kalau udah keterlaluan parah bisa digundulin juga tumbuh lagi. Hahaha. Yang penting bukan kulit kepalanya yang rusak, dan harus dipastikan juga level sensitifitas dan alergi kulit kamu ya. Ini bahan kimia. Jangan sembarangan. 

Tapi ini aku ya, yang hidupnya emang nggak terikat apa-apa dan bisa melakukan segala sesuatu sesuka hati. Kalau kalian-kalian misalnya masih sekolah, kerja kantoran, atau masih mengkhawatirkan banyak hal, mending jangan bleaching. Kalau mau warna rambut aneh, pakai wig aja. Sekarang wig udah banyak yang bagus kayak rambut asli. #solusibijakluarbiasa

Oke, udah kepanjangan klarifikasinya. Sekarang, kalau kalian masih membaca sampai sini, aku asumsikan kalian sama kayak aku. Suka warna rambut ngejreng, mau warna rambut ngejreng, sadar, dan rela menanggung segala konsekuensinya. 

Aku udah berkali-kali percobaan mewarnai rambut warna ngejreng. Percobaan beberapa lama ini bisa dibilang nggak terlalu memuaskan. Soalnya kau pakai cat rambut Miranda sih, wkwk. Seringnya, warnanya nggak jadi sama kayak contoh gambar di boksnya. Kalaupun jadi cuma pas awal-awal aja. Sekali keramas langsung udah berubah. Dan warnanya nggak pernah beneran jadi gonjreng, melainkan kusem gitu lohh. Nggak keren pokoknya. 

Baca juga: Review Bleaching dan Cat Rambut Miranda

Itu karena aku pakai Miranda ya. Kalau cat rambut yang mahal-mahal gitu aku nggak tahu deh, mungkin emang beneran bagus kali ya. Soalnya kalau ngelihat di foto doang, foto juga bisa diedit. Warnanya bisa dibikin jadi lebih bagus, saturated, vivid, dll. Bahkan hairdresser tersertifikasi sekalipun bilang jangan percaya sama foto kok, soalnya hasil di kehidupan nyata nggak selalu sebagus itu. 

Tapi kalau aku lihat video-video hair transformation gitu aku sering lihat warnanya jadi bagus sih. Bagus pas pertama. Hahaha. Nggak tahu kalau udah dikeramasin bakal masih kayak gitu apa enggak. Dan yang jelas, kalau mau warna bagus kayak gitu harus pakai cat rambut yang mahal. Kayak misalnya Manic Panic itu warnanya bisa bagus banget. Tapi satu jar itu berapa coba? 200 ribuan? Yang tahu harganya komen yaa. 

Dan itu juga semi permanen. Nggak tahan lama, alias dikeramasin beberapa kali juga ilang. Heuuuft. Sebagai anak yang lebih memilih menggunakan uang buat hal lain yang lebih bermanfaat daripada hanya buat cat rambut sementara, aku mencari alternatif yang lebih murah tapi hasilnya tetep bagus dong.

Dan setelah berguru di padepokan youtube, aku menemukan dua alternatif mewarnai rambut:
1.      Pakai pewarna makanan
2.      Pakai kertas krep

Yang pakai pewarna makanan ini aku langsung tergiur banget karena udah pasti aman dan sehat dan nggak berbahaya buat rambut karena cuma pewarna makanan dicampur sama kondisioner/ mayones. Sayangnya, dua kali percobaan, aku gagal terus. Nggak kelihatan hasilnya sama sekali. 

Tapi itu sih kayaknya karena aku pakai pewarna makanan biru buat percobaannya. Sementara warna biru itu terkenal sebagai warna yang paling susah masuk. Bahkan pakai cat rambut beneran juga kalau warna biru itu susah banget masuknya. Udah gitu, paling gampang ilang lagi. Sungguh melelahkan. 

Sedangkan aku lihat yang pada percobaan pakai pewarna makanan pink gitu bisa jadi bagus. Karena warna dari keluarga merah-merahan ini paling gampang masuk dan paling susah ilang. Bahkan warna merah ditaruh di rambut hitam alami aja bisa keluar warnanya dan lama ilangnya. Kalau nggak percaya sama teori ini, coba cat rambut pakai warna ungu. Warna ungu itu kan campuran antara merah dan biru. Dalam waktu singkat, unsur birunya ilang dan lama-lama rambut jadi merah kecoklatan. Aku udah mengalami ini setelah aku cat rambut pakai Cat Rambut Samantha yang dulu itu. 

Tapi sesungguhnya aku masih penasaran sama cat rambut pakai pewarna makanan ini. Nanti kalau aku sempet coba dan sukses, aku akan bagikan ke kalian. 

Sementara ini, aku masih nggak mau berpindah ke lain hati dulu karena aku warnain rambut pakai kertas krep dan sukses luar biasa. Kayak gini hasilnya:

Ini warnanya juga sebenernya nggak sesuai kenyataan yang sebenarnya ya. Seperti kalian sudah tahu, kaameraku itu warm tone, jadi bikin warna apa aja terlihat lebih hangat dibanding warna aslinya. Yang pink itu sebenernya asli pink, tapi di sini kelihatan lebih merah/orange.

Ngejreng banget kan warnanya? Yang berteman sama aku di facebook mungkin udah lihat foto rambut sebelah-sebelahku. Yang biru itu editan karena aslinya ungu dan nggak rata, makanya ceritanya aku ratain dan aku dinginkan tone warnanya jadinya kayak gitu. Aslinya ungu kayak gini. 

Tapi kalau yang pink itu asli. Beneran pink banget sampai kayak rambut plastik. Aku aja ketawa-ketawa terus saking bahagianya. Dari tahun kapan pengen rambut warna gonjreng dan baru kesampaian sekarang hanya modal kertas krep yang harganya selembar (aku beli yang lembaran gede, bukan yang potongan kucil-kucil) cuma seribu lapan ratus. Itu juga cuma kepakai dikit dan masih sisa banyaaaak. Modal lima ribu aja bisa buat warnain rambut setahun kayaknya. 

“Wait, what?? Serius lau, Pel? Emang bisa? Caranya gimana?” 

Cara Mewarnai Rambut Pakai Kertas Krep

1.      Rambut kalian harus udah dibleaching dulu. Kalau rambutnya masih item, tetep aja warnanya nggak bakalan masuk.
2.      Beli kertas krep.
3.      Gunting-gunting kertas krep secukupnya dan masukkan ke dalam wadah apa aja terserah.
4.      Kasih air secukupnya buat ngeluarin warna dari kertasnya. Kertasnya sambil ditekan-tekan atau diaduk-aduk yaa. Pas masukin air jangan banyak-banyak. Kamu harus lihat warna airnya berubah jadi pekat. Harus bener-bener pekat kalau mau maksimal.
5.      Rendam rambut ke larutan warna selama lima belas menit.
Hah, rendam, Pel? Trus yang bagian atas itu kamu gimana cara ngerendemnya?
Aku sampai tiduran dong, hahaha. Niat banget kan? Begitulah. Siapa bilang jadi alay itu gampang? It’s about hardwork and dedication. -,-
6.      Keringkan.
Kalau aku langsung tak keringkan nggak pakai bilas. Tapi kalian kalau mau bilas enggak apa-apa. Tapi asal tahu aja, warnanya akan langsung luntur begitu kena air. Nggak langsung ilang sepenuhnya sih, tapi jadi berkurang gitu lho. Karena aku pengen menikmati warna gonjreng maksimal, aku langsung keringkan dan baru keramas pertama itu tiga hari kemudian. Hihihi.
Di foto atas itu aku udah keramas sekali. Warnanya masih ngejreng kan? Itu karena aku pakai shampoonya hati-hati banget cuma di kulit kepala dan batang rambutnya cuma pakai conditioner.

Demikianlah, Belbies! Cara cat rambut pakai kertas krep. Gempil kan? 

Pertanyaan Seputar Cat Rambut Pakai Kertas Krep:

1.      Apakah warnanya tahan lama?

Enggak. Karena ibaratnya kita cuma main warna-warnaan ditempelin ke rambut. Sama aja kayak kamu bikin tato-tatoan pakai spidol. Gampang banget ilangnya. Paling cuma tiga kali keramas juga ilang. Tapi justru aku seneng sih, soalnya jadi bisa sering gonta-ganti warna kan? Ngahahaha.

2.      Apakah pasti berhasil?

Pasti, asal rambutmu udah dibleaching.

3.      Apakah aman?

Ini aku enggak tahu. Wkwk. Jujur aja ya. Tapi kalau menurutku sih kayaknya masih jauh lebih aman daripada pakai cat rambut sih. Soalnya kan nggak pakai developer lagi dan cuma pakai air. Tapi kalian bisa tanyakan dulu ke ahlinya buat meyakinkan. Sekali lagi, blog madbelbie itu buat have fun, jangan dijadikan patokan.

4.      Apakah rambut jadi kaku?

Kalau aku enggak. Nggak ada rasanya. Kayak biasa banget gitu. 

Tips Mewarnai Rambut Pakai Kertas Krep:

1.      Pakai baju yang kamu udah nggak peduli lagi. Karena bakal netes-netes dan bajumu bakal kena semua. Pakai pelindung plastik atau pakai mantol bila perlu. #siap
2.      Lakukanlah di tempat yang aman. Jangan di atas tempat tidur, di atas karpet, di atas sofa mahal, dan sebagainya karena akan netes ke mana-mana. Paling aman sih di kamar mandi biar gampang bersihinnya. Kalau netes ke lantai keramik juga nggak masalah sih, tinggal dielap aja. Intinya kalian kira-kira sendiri lah, harus sehati-hati apa. Yang penting jangan kena benda-benda berharga aja. 

Trus apa lagi ya? Emm, kayaknya udah sih. Oh, kesimpulan ding.

Kelebihan Cat Rambut Pakai Kertas Krep:

1.      Murah meriah. Mau warnain rambut sepuasnya juga nggak bakalan bangkrut.
2.      Warnanya jadi bagus banget sangat memuaskan sampai kayak rambut-rambutan. Hihi.
3.      Nggak bikin rambut jadi gimana-gimana.

Kekurangan Cat Rambut Pakai Kertas Krep:

1.      Gampang ilang. Dan kalau misal kehujanan di jalan juga harus hati-hati karena ada kemungkinan luntur. Wkwkwk. 

Recommended?

Yeeeesssss!

Apakah akan kuulangi lagi?

Yeeeesssss!

Udah ah. Maaf ya, aku akhir-akhir ini kalau nulis suka cerewet panjang banget. Btw, kalau kalian masih punya pertanyaan seputar cat rambut warna-warni pada umumnya dan cat rambut pakai kertas krep pada khususnya, komen aja yaa. Aku akan berusaha membalas segera setelah membacanya. Kalau aku slowres karena nggak selalu cek email, kalian bisa tetep berhubungan sama aku melalui facebook atau instagram. Go follow yaa. My social media handle ada di sidebar sebelah tuh.

Thank you so much for reading, Belbies!

Love,
Isthar Pelle
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar


Hello, Belbies! How are you? Long time no see, ya. I was such a bad bad blogger, I know. Aku nggak akan memberikan janji-janji palsu untuk ngeblog lebih sering karena aku belum tentu sanggup memenuhinya karena sekarang lagi banyak aktivitas lain yang butuh perhatian, lol. Tapi kali ini aku sempet-sempetin banget nulis ini karena breaking news: aku menemukan produk bleaching rambut yang asli bikin aku jatuh cinta setengah mati.

Disclaimer: review ini tidak disponsori. Jujur hasil pengalaman pribadi yang aku mau bagiin ke kalian ya. Oke, langsung aja ke topik pembicaraan utama!

Review Bleaching Rambut Inaura

Setelah beberapa lama memutuskan untuk mengistirahatkan rambut dari warna-warna ngejreng karena rambutku jadi rusak waktu itu karena bolak balik dibleaching, akhirnya rambutku udah kembali ke kondisi normal sehat wal afiat dan cantik sehat. Cieee. Ya iyalah, waktu itu aku trim rambut aku. Ngetrimnya agak kebanyakan sebenernya yang berakibat rambutku malah dipotong jadi pendek banget, huhuhu. Ini sebenernya bisa diceritain dalam postingan sendiri terpisah, tapi waktu itu aku sungguh lagi nggak menaruh perhatian pada blog ini jadi nggak terlaksana deh. Wkwk. 
Intinya setelah potong rambut, aku cat rambut aku pakai warna coklat. Aku nggak tahu pastinya sih ya, tapi setahuku warna rambut netral kayak hitam dan coklat gitu adalah warna yang paling aman dan nggak terlalu merusak rambut. Selain itu aku sengaja cat warna gelap buat meratakan warnanya karena tadinya masih ada sisa-sisa warna ijo, biru, dan pink. Yang berteman sama aku di facebook pasti tahu karena dulu aku pernah posting foto rambut mermaid. Yang tidak berteman, ini dia fotonya. 

Rambut panjangku kok biutiful banget yak. Ah, jadi rindu.
Warna rambut coklat juga secara instan membuat rambut yang tadinya kering nggak sehat jadi terlihat mendingan. Ibaratnya makeup selama masa penyembuhan ya. Selama itu, aku sambil rawat rambut aku biar kembali sehat beneran. Ini cuma eksperimen ngawur aku seperti biasa ya, tolong jangan dijadikan pedoman. Lol.

Beberapa waktu kemudian (aku nggak inget tepatnya berapa lama) rambut aku udah kembali sehat dan udah jadi mending rada panjang lagi. Nggak ada split end, nggak ada rambut patah karena kering dan rapuh lagi. Kalau tadinya tuh udah sering patah kecil-kecil gitu loh. Trus juga udah nggak kasar lagi. Udah normal lagi lah. Tapi ya tentu saja warna coklat itu membosankan sekali dong, buatku. Akhirnya aku memutuskan untuk bleaching rambut lagi biar bisa diwarnain lagi.

Pergilah aku ke toko perlengkapan salon langganan untuk beli bleaching rambut. Tadinya aku mau beli merek Miranda kayak biasanya. Jujur aja aku nggak tahu banyak soal merek-merek produk bleaching rambut. Atau well, sebenernya tahu sih, cuma nggak pernah coba karena mahal. Lol. Miranda itu merek yang paling murah yang aku tahu. Hahaha.

Langsung aja aku bilang ke mbaknya toko beli bleaching Miranda yang boks besar, trus sama beli developer terpisah yang buat bleaching. Kenapa? Karena developer bawaannya Miranda itu yang buat bleachingnya juga cuma 6% kalau nggak salah, dikit banget, dan hampir nggak ada gunanya sama sekali. Ini yang bikin percobaan bleaching sendiri pas pertama dulu gagal. Belajar dari kegagalan dan setelah menimba ilmu dari video youtube, ternyata kalau mau sukses emang harus ditambah developer tambahan yang 12%. 

Baca juga: Review Bleaching dan Cat Rambut Miranda

Trus mbaknya bilang gini “Oh, developernya mau ganti ya? Mbok mending bleachingnya sekalian aja,” gitu. Maksudnya, mending bleachingnya nggak usah pakai Miranda, tapi merek yang sama kayak developer yang ditawarkan Mbaknya ke aku yaitu, Inaura. Tentu saja kemarin aku nggak sempet foto karena buru-buru semangat banget langsung pakai dan langsung buang bungkusnya begitu selesai (kebiasaan), jadi aku cariin fotonya dari google, seperti ini. 


Harganya nggak beda jauh sama sekali dari Miranda, Miranda yang boks kecil itu kan harganya Rp. 7.500. Ini Cuma Rp. 8.500/ sachetnya. Developernya Rp. 25.000 yang ukuran 200ml. Mbaknya bilang ini bagus. Jadi oke, aku ambil bleachingnya dua sachet, developernya satu botol yang 200ml, dan sebagai tambahan aku beli conditioner literan yang murah banget satu liter harganya cuma Rp. 13.000. Ini karena aku mikir habis bleaching pasti tetep kasar dan aku berencana untuk menenggelamkan rambutku dalam conditioner buat membantu melembutkan. Oke, bayar di kasir, pulang. Sampai kos langsung aku cobain semangat banget dong, wagelaseh. 

Ini developernya. Buat bleaching aku pakai yang pink, 12%.
Bubuk bleaching Inaura ini warnanya biru. Menurut keterangan, kalau buat highlight perbandingan sama developernya 1:1,5, kalau buat bleaching full 1:2. Jadi aku kasih developernya agak banyak. Pokoknya buat dua sachet bubuk bleaching ini sekarang developernya cuma sisa sekitar seperempat botol.

Kesan Pertama Bleaching Rambut Inaura

Pas dicampur, nggak ada bau menyengat amonia sama sekali. Bahkan hampir wangi karena menurut keterangan di botol developernya itu perfumed cream. Trus pas dicampur juga nggak mengembang dan menggumpal. Aman banget jadi kayak pasta/lotion kental biasa yang ini membuat pengaplikasian jadi sangat mudah. Jauh lebih mudah daripada Miranda yang mengembang kering dan jadi bubuk.
Teksur pasta/lotion ini bikin pengaplikasian jadi gampang rata ke seluruh rambut kayak cat rambut biasa. Dari sini aja aku udah jatuh cinta.

Trus aku merasa kalau bleaching ini sangat panas. Asli, mungkin karena volume developernya yang tinggi banget itu, jadinya ketempel kulit aja kayak menyengat gitu. Makanya harusnya leher dan area kulit di sekitar rambut harus dilindungi pakai handuk atau kain gitu.

Pengaplikasiannya cepet banget saking gampangnya. Aku nggak punya alumunium foil, jadi pas udah aku pakai rata, aku bungkus pakai plastik dan menunggu selama kurang lebih 45 menit (niatnya). Tapi baru setengah jam aku udah nggak tahan karena panas banget. Plastiknya aku sentuh aja beneraan panas banget dan yang bikin aku tercengang, sampai keluar air kayak uap gitu ngumpul diplastiknya. Pas aku keluarin dan airnya kena tangan, itu rasanya panas, asli deh. Ini apaan coba. Trus aku buka tutup plastiknya, dan serius, rambutku panas banget kayak habis disteam. Trus aku kipasin biar adem (teknik yang apa sekali). Sambil mengademkan rambut, sekalian aku cek kalau ada bagian yang kurang rata.

Oya, di tahap pertama aku pakai satu seperempat sachet. Satu sachet aja nggak cukup buat rambutku yang banyak.

Trus sisanya yang tiga perempat sachet aku campur lagi sama developer buat nimpa bagian-bagian yang belum rata dan aku pakai sebagian besar buat rambutku yang sisi sebelah kanan karena aku nggak ngerti kenapa, yang kiri udah kuning, tapi yang kanan masih coklat-coklat aja. Mbaknya toko juga bilang kalau mau nimpa jangan dikeramasin dulu, tapi langsung biar hasilnya maksimal. Oke, aku habiskan bagian terakhir itu buat ngeratain, aku tutup plastik  lagi, dan tunggu lagi 45 menit.
Kali ini nggak terlalu panas karena aku udah lebih cerdas dengan ngasih lubang udara. Plastiknya nggak rapet banget gitu. Setelah itu aku buka dan keramas.

Pas keramas aku terkejut karena rambut aku kok lembut banget. Jadi ternyata developernya itu udah kayak mengandung conditioner gitu loh, gaes. Jadi sambil proses bleaching, sambil kayak dilembapkan. Tapi aku tetep pakai conditioner sih, biar lebih mantap djiwa.

Trus habis itu aku cek dan ternyata warnanya rata bagus. Jauh lebih bagus dibanding Miranda. Kalau masih ada yang kurang rata, itu karena aku aja yang oon mengaplikasikannya nggak rata. Habisnya susah lho, pakai sendiri nggak ada yang ngebantuin. Bagian belakang rambutku masih ada yang gelap banget. hahaha. Tapi cuma dikit sih. Sama kayak ada yang belang jauh lebih putih itu karena sisa bleaching di masa lalu yang emang belang.. Tapi nggak apa-apa, nggak terlalu kelihatan juga.

Hasil Bleaching Rambut Inaura

Dua kali bleaching, rambutkku berubah jadi kuning agak orange. Level delapan lah. Ini bisa dimengerti karena aku berangkat dari warna rambut gelap banget. Coklat akibat pewarna, dan setengah yang atas itu warna rambut alami yang belum pernah kena apa-apa. Jadi wajar kalau baru dibleaching dua kali dan warnanya masih agak orange. Tapi aku yakin sih, dibleaching sekali lagi juga warnanya udah akan berubah jadi pirang terang atau mendekati putih.  

Kayak gini. Sebenernya lebih kuning, tapi karena kameraku warm tone dan bikin segala warna terlihat lebih hangat dari aslinya, jadi kelihatan orange banget di sini. Kalau dibiarin apa adanya kayak gini alay banget sih, dan jelek banget rambut kuning kayak gini. Kalau kamu mau rambut pirang, keramas pakai purple shampoo ya, buat ngurangin warna kuningnya. Jadi pirangnya bisa bagus.
Trus rambutku nggak terasa kasar sama sekali. Lembuuut banget. Bahkan rasanya jauh lebih lembut dari sebelum dibleaching (haha, aneh). Emang sih, rambutku jadi kayak gede (mengembang), tapi pada dasarnya bentuk rambutku emang kayak gitu kan? lol.

Untuk sekarang ini, aku belum akan bleaching lagi karena aku cukup senang dengan warna yang sekarang. Kalau mau warna rambut putih atau silver emang harus dibleaching seenggaknya sekali lagi biar sampai level sepuluh, trus pakai purple shampoo buat ngilangin sisa warna kekuningannya. Tapi aku sekarang lagi pengen main warna-warna lain dulu, belum tahu mau warna apa. Hahaha. Jadi hasil bleaching yang sekarang udah cukup buat bikin warna-warna kayak pink dan hijau masuk. Soal yang masih belum rata dikit-dikit sih tenang. Hidup memang nggak harus sempurna kok. Wkwk. Alasan nih, aslinya masih males aja.

Kesimpulan Review Bleaching Rambut Inaura

Aku suka banget dan puas banget. Nggak menyesal mengikuti saran mbaknya toko. 

Kelebihan:

-        Harganya murah, hampir sama aja kayak Miranda
-        Nggak bau menyengat
-        Gampang diaplikasikan
-        Hasilnya bagus memuaskan
-        Nggak bikin rambut jadi kering dan kasar

Kekurangan:

-        Panas banget. Tapi ini kayaknya wajar buat developer 12%, jadi nggak masalah. Toh nggak bikin kulit kepalaku iritasi atau semacamnya. Aku banyak baca dan lihat video orang bleaching rambut trus kulit kepalanya sampai merah kayak luka gitu mengerikan banget. Tapi aku enggak sih untungnya, soalnya bagian yang mendekati akar aku kasih terakhir nggak bareng sama bagian batang.

Recommended?

Iya, banget. Kalau kalian mau bleaching rambut sendiri yang murah dan nggak bikin rambut jadi kasar, mending pakai merek ini. 

Repurchase?

Iya banget. Ntar kalau aku mau bleaching lagi udah yakin seratus persen bakal pakai merek ini lagi.

Tips bleaching rambut sendiri secara aman tanpa merusak rambut:

-        Pertama, kondisi rambut harus dalam keadaan sehat. Jangan rambut rusak, kering dan kasar trus dibleaching. Selain hasilnya nggak bakal bagus, rambut juga akan jauh lebih rusak lagi. Kalau perlu seminggu sebelum bleaching perawatan ekstra dulu pakai masker rambut, vitamin, dll. 

-        Aplikasikan mulai dari ujung rambut ke atas, dan sisakan sekitar 1-2 cm dari akar rambut. Ini karena bagian yang mendekati akar itu lebih cepet berubah warnanya dibanding batang dan ujung rambut. Selain itu juga ke kulit kepala rasanya panas, jadi bagian ini emang baiknya jangan lama-lama biar nggak sampai luka kayak orang-orang gitu.

-        Pakai aluminium foil kalau punya. Ini mempercepat proses dan bikin hasilnya juga lebih maksimal dan rata. Kalau nggak punya, bisa pakai plastic wrap atau tutup pakai shower cap.

-        Setelah bleaching juga perawatan harus super duper ekstra. Sebagus apapun bleaching, pasti tetep mengubah tekstur rambut. Pasti. Namanya aja bahan kimia yang segitunya bisa ngilangin pigmen rambut loh. Kan keras. Jadi mau nggak mau ya rambut harus dirawat lebih dari biasanya, biar tetep sehat, lebut, nggak patah-patah. 

-        Lindungi area leher pakai kain atau handuk. Kalau kena kulit bagian ini panas soalnya.

-        Pakai sarung tangan.

-        Usahakan jangan mengaplikasikan sendiri, minta bantuan orang lain biar rata. Jangan kayak aku yaa. Kecuali kamu emang udah jago banget bisa ‘melihat’ bagian belakang rambut sih. Lol

Oke, segini dulu aja review bleaching rambut Inaura kali ini, gengs! Sungguh review yang positif sekali ya. Aku seneng deh kalau review produk hasilnya bagus gini. Habis ini tinggal warnain aja. Warna apa dulu ya, enaknya? Menurut kalian? Komen di bawah yaa! 

Terima kasih banyak udah baca postingan kali ini, dan sampai ketemu di postingan berikutnya ya, Belbies!


Love.
Isthar Pelle

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Santai aja, ini perutku juga belum yang flat sempurna kok. Kemarin-kemarin sempet udah ada mid sectionnya yang seksih gitu, tapi trus ilang lagi seiring dengan semangat workout yang mengendur. Hihihi.


Seringnya orang diet biar kurus langsing punya tubuh semampai bak supermodel. Kalau niatnya aja udah salah, cara dietnya apa lagi. “Aku sedang diet maka aku nggak makan.” Itu salaaaah. Diet toh dalam arti yang sebenarnya bukannya nggak makan tapi mengatur pola makan. Dan ini nggak bisa dipukul rata dengan metode diet yang sama karena kebutuhan tubuh tiap orang beda. Metode diet tertentu bisa bagus banget sukses gilang gemilang di satu orang, tapi belum tentu memperlihatkan hasil yang sama di orang lain. 

Jangankan tubuh orang yang beda, orang tubuh satu orang yang sama dengan aktivitas yang berbeda aja kebutuhan makannya udah beda lagi. Dulu pas aku masih banyak aktivitas fisik, makannya lebih banyak daripada sekarang pas nggak terlalu banyak aktivitas fisik. Kalau dulu kerja pulang malam, berdiri berjam-jam, lari-lari ke sana ke mari, angkat-angkat baju berkoli-koli ya wajar kalau jadi lebih laper dan tubuh menuntut ganti makan yang lebih banyak. Kalau kebiasaan makan banyak itu aku lanjutin sekarang ketika kegiatanku lebih banyak duduk depan laptop ya pasti aku jadi gemuk. Soalnya makanan yang masuk nggak seimbang sama energi yang dibakar. Nha, ngerti kebutuhan tubuh sendiri ini yang emang nggak gampang. Perlu proses panjang, mungkin perlu gagal diet berkali-kali dulu sampai ketemu satu metode yang pas. 

Kalau aku untungnya suka bisa ngerasain. Begitu makan rada banyak dan berat badan naik, pasti merasa nggak nyaman. Bukan hanya soal pakaian yang jadi terasa lebih sempit, tapi juga badan dipakai beraktivitas itu nggak enak. Berat, jadi kurang gesit. Udah gitu jadi gampang lelah lagi. 

Trus aku juga tahu banget aku lemah sama nasi putih. Nasi putih di aku itu bagaikan kryptonite buat Superman. Jadi aku kalau makan nasi putih lebih dari satu porsi per hari pasti bakal jadi gemuk. Kalau pun mau makan nasi sehari tiga kali ya porsi nasi putihnya masing-masing dikit, maksimal sepertiga porsi normal. Anehnya, aku kalau makan gorengan mau sebanyak apa juga biasa aja, nggak bikin gemuk. Padahal gorengan itu kan karbohidrat yang digoreng. Hahaha. Aneh kan? Ya aku juga heran. 

Aku ngatur pola makan bukan hanya biar bisa jadi langsing (meskipun ya, bentuk badan ideal juga membuatku bahagia, ngahahaha). Tapi kayak yang temenku bilang, gemuk itu bukan kondisi ideal manusia. Manusia bisa menua, kulit bisa menjadi keriput, itu memang hukum alam. Pada akhirnya tetep akan terjadi. Tapi gemuk? Tumpukan lemak jahat menggelayut? 

Oke lah, kalau yang badannya emang gede karena tulang besar. Oke. Tapi lihat lagi, itu beneran tulang besar, atau lemak yang menumpuk? Ada bedanya. Satu hal lagi yang perlu dipahami: kegemukan itu nggak selalu berbanding lurus dengan berat badan. Jadi sebenarnya ngukurnya jangan dari berat badan karena bisa saja itu masa otot atau kepadatan tulang. Aku punya temen yang berat badannya itu 60 kg lebih hampir 70 kg, padahal tinggi badannya nggak jauh beda sama aku, mungkin 165 cm atau 167 cm (nggak tahu karena belum pernah nanya apalagi ngukur). Idealnya, berat badan dia sekitar 55 kg atau 57 kg. Namun dia nggak kelihatan gendut sama sekali. Sebadan otot samua. Badannya emang kelihatan besar sih, tapi kenceng semua. Pakai baju juga tetep bagus, pinggangnya langsing, perutnya rata. 
Illustration from The Daily Beast

Alasan-alasan Orang Nggak Mau Diet 

Gemuk Faktor Keturunan?

Banyak yang menyalahkan kegemukannya pada faktor keturunan. “Aku terlahir gemuk, papa-mamaku gemuk, makanya aku juga gemuk,” *sambil nggak berhenti ngunyah makanan. 

Oke, gini, memang ada yang namanya bakat gemuk dan bakat kurus. Kalau dalam bahasa Jawa istilahnya ‘pawakan’. “Cah kae pawakane ncen lemu, diet yo ra bakalan kuru.” “Cah kae pawakane ncen kuru, mangan okeh ya tetep wae kuru.” 

Illustration from freepik

Dan yess, memang ada gadis-gadis menyebalkan yang makannya itu banyak tapi nggak gemuk-gemuk. T__T Aku punya beberapa temen yang kayak gitu. #iridengki 

Makannya lhooo, banyak banget. Kalau di warung prasmanan pasti nambah nasi, bungkus nasi di warteg mintanya porsi cowok. Kalau bikin mie instan kemasan wajar bikinnya dua, pakai telur dua. Habis itu masih ngemil-ngemil roti isi. Dan nggak gemuk blas! Perutnya keliatan mlembung aja enggak. Sementara aku sekadar makan cilok sepuluh butir aja perutnya langsung kelihatan melar. T__T

Nah, aku ini tipe satunya. Yang bakat gemuk. Embah putriku gemuk banget, tante dan om-omku semuanya gemuk. Cuma ibuku yang nggak gemuk karena dietnya ketat banget seumur hidup. Hahaha. Kalau ibuku sampai kendor dikit dietnya, seminggu langsung naik 7 kilo. Serius! 

Aku pun sama kayak ibuku. Jadi aku ngemeng kayak gini bukannya sok tahu aja dan nggak mengerti perasaan kalian. Aku mengerti, sepenuhnya. Aku kalau makan nasi putih sehari tiga kali selama tiga hari berturut-turut pasti langsung naik gaes, minimal dua kilo, seriously. Dulu berat badanku pernah sampai hampir 60 kg (aku idealnya 50). 

Jadi waktu itu jeda habis lulus SMA menuju masuk kuliah kan rada lama. Di rumah aku makannya teratuuur banget. Sehari tiga kali (selalu pakai nasi putih), dan ngemilnya banyak. Nggak nyadar, ternyata aku jadi gemuk banget oemgeeee. Tapi untungnya cuma bentar, belum nyampe 60kg aku udah keburu nyadar dan segera bertaubat. Ngontrol pola makan, ngurangin nasi putih. 

Apakah sukses? Sukses lah. Dari dulu berat badanku segini-segini aja. Paling banter mentok di 52 kg dan itupun aku udah panik. Hahaha. 

Nggak Apa-apa Gemuk yang Penting Sehat

Tadi aku habis bilang ke temenku yang lagi sakit, “Nggak apa-apa gemuk yang penting sehat dulu.” Kenapa aku ngomong gitu? Soalnya dia lagi sakit. Maksudku, makan aja dulu yang banyak sampai pulih nggak apa-apa. Tapi bukan berarti oke, kamu sana gemuk aja yang penting sehat. Aku nggak setuju banget sama kalimat satu ini. 

Yahh, aku nggak ngerti sih kalau orang lain, tapi aku pribadi kalau pas gemuk itu justru merasa nggak sehat. Ya itu tadi, gerak aja rasanya jadi lamban, tubuh rasanya berat, nggak lincah. Trus aku selalu merasa badanku nggak enak. Mungkin karena banyak lemak itu kali ya? Jadi banyak impurities. 

Dan anehnya, kalau aku udah agak gemuk gitu, pasti diikuti dengan pusing-pusing, lemes, nggak enak badan, dst. Dari situlah aku tahu kalau emang kondisi badanku lagi nggak bener. 

Trus aku ngebenerinnya gimana? Aku puasa. Bukan puasa yang cuma mindahin jam makan dan malah makan lebih banyak plus nambah yang manis-manis yaa. Enggak. Aku puasanya dengan cleansing. Atau istilah lainnya detox. Biasanya tiga hari aku nggak makan selain sayur dan buah, trus konsumsi air putih aku banyakin (di hari normal itu aku minum air putih sekitar dua liter, kalau pas cleansing tak tambah jadi tiga liter), nggak minum manis, nggak minum kopi. Selama proses situ biasanya aku mencret-mencret, wkwkwk. Tapi habis itu badan jadi enteeeeng banget nget. Merasa sehat, pandangan lebih jelas, bisa tidur nyenyak, dll. 

Illustration from Beauty and Go

Itu metode cleansing ngawur yang aku karang-karang sendiri. Works best on me, tapi aku nggak nyaranin kalian lakuin yang sama karena belum tentu hasilnya bakal sama. Kalau mau cleansing atau detox mending tanya sama ahlinya aja. 

Sudah Menikah dan Punya Anak

"Ya maklum lah, cewek single. Belum menikah dan punya anak."

Oke, jadi badanku sekarang kayak gini itu bukan ‘gift’ yang jatuh dari langit. Aku mengusahakannya. Aku ngatur pola makan dan rajin olahraga. 

“Ya tapi kaaan, kamu belum punya anak. Kalau udah punya anak beda lagi ntar.” 

Iya, aku nggak menyangkal itu. Semua ibu hamil pasti naik berat badannya. Bahkan yang kurus bangetpun tetep pasti naik. Apalagi sambil menyusui, makannya harus banyak soalnya kan kebutuhan nutrisinya meningkat jadi buat dua orang. Tapi apakah mengembalikan bentuk tubuh ke ideal pasca melahirkan dan menyusui itu mustahil? Kayaknya kok enggak. 
Illustration from Colourbox

Dulu aku lihat ibuku pas hamil dan menyusui juga jadi gemuk. Pas menyusui juga makan banyak. Tapi habis itu begitu stop menyusui, ibuku kembali ke jalan ninjanya, eh, ke jalan diet yang beliau lakukan selama ini dan sukses. Berat badan ibuku sekarang juga paling banter 50kg. Pinggangnya masih kecil meski emang, perutnya masih ada gelambir sisa hamil yang kayaknya emang agak susah buat diilangin. 

Tapi bentuk badannya secara keseluruhan masih bagus bangeeet. Ramping dan padat karena ibuku juga suka olahraga. Exercise nggak pernah skip tiap hari, minum jamu, makan sehat, minum banyak. Pokoknya dalam hal ini, ibuku tuh jauuuuh lebih disiplin daripada aku. Kalau disuruh ngikutin caranya Ibuku, aku belum tentu sanggup deh, beneran. Aku sih, males-malesan. Sering bolos. Lol

Sibuk, Jadi Nggak Punya Waktu Buat Olahraga

Oh, please. Planking itu buat beginner dua kali 30 detik aja cukup. Aku juga dulu gitu pas awal-awal. Masalahnya bersedia enggak melakukan itu? Saking sibuknya sampai semenit sehari aja nggak punya? Serius? Kalau kamu sekarang bisa baca postingan ini, berarti kamu sangat punya semenit waktu luang. Kalau foto-foto makanan dan posting ke IG sempat, berarti harusnya kamu sangat sempat buat planking atau wall sit yang cuma butuh semenit. Kalau sempet facebook-an nyetatus mampir njempol dan komen-komenan di sana sini sempat, … masih mau bilang nggak punya waktu?
 

Trus apa lagi? “Suamiku nggak ngasih uang trus aku nggak bisa pergi ke gym, ikut kelas yoga, dan bla bla bla?” Pliiiis, skipping itu bisa dilakukan dengan tali yang dibikin sendiri pakai karet gelang. Pasti pernah main lompat tali pakai karet gelang kan, waktu kecil? Lagian kalau cuma sit up, push up, back up, planking, dan wall sit, nggak perlu pergi ke gym dan beli peralatan mahal-mahal. Di kamar pakai celana kolor pun jadi. Balik lagi, bersedia enggak melakukan itu?

Ya intinya sih kalau mau gemuk dan nyaman dengan itu silakan aja, yang penting bahagia. Kan diri sendiri yang ngerasain. Adele aja bahagia sama badannya dan malah ngeluarin plus size dress line. Aku juga nggak pernah menghina orang yang badannya gemuk kok. Selama masih merasa sehat, nggak terganggu, tetap lincah, dan bahagia ya silakan aja. Tapi ya terus terang aja bilangnya “Aku males olahraga sama atur pola makan, Pel. Aku kayak gini bahagia kok.” Jujur aja. Bukankah itu bagian dari menerima diri sendiri dan mencintai diri apa adanya? Tapi jangan ngeles trus menciptakan excuse. Karena yang gemuknya udah keterlaluan aja bisa turun berat badan dengan bersedia keringetan. “Sweat until you happy,” mereka bilang. 

Kalau kamu bahagia sama apapun bentuk badan kamu, berbahagialah! Tapi sekali lagi, jangan cari-cari alasan pembenaran, apalagi menghujat cewek lain yang badannya bagus sebagai “Enggak pengertian”. Mencintai tubuh sendiri apa adanya itu memang wajib. Tapi lihat lagi yang dimaksud apa adanya itu sebenernya apa sih? Tubuh pendek, pantat tepos, tetek tipis, hidung pesek, dan sebagainya itu apa adanya. Nggak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya kecuali melalui jalan operasi. Tapi gemuk? 

Jujur aja dan santai. “Aku gemuk, dan aku nggak mau melakukan apapun untuk mengubahnya.” Jangan marah sama orang lain kecuali orang itu membully kegemukanmu. Nggak usah ngeles dan baper kalau ada orang yang posting aktivitas work outnya dan keberhasilan dietnya. Bahagia aja kayak biasanya. Kalau masih sibuk ngomenin keberhasilan diet orang sementara diri sendiri cari-cari alasan pembenaran atas kegemukan, berarti justru aslinya nggak nyaman sama kondisi itu dan diam-diam pengen punya badan ideal tapi males aja. Hahahaha. 

Kalau aku pribadi, bela-belain atur pola makan dan olahraga bukan semata karena kepengen langsing, tapi juga karena aku pengen sehat, dan sebenernya sih itu tujuan utamanya. Ilangin lemak jahat biar kalau pun seandainya badanku gede karena tulang gede, itu bener-bener tulang sama otot, bukan lemak yang menumpuk. Badan sehat membuat kita bahagia, percaya deh. Kan di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. :p

Yang jelas sih kalau emang merasa nggak nyaman sama kelebihan berat badan dan kepengen berat badan yang ideal, itu sangat bisa diusahakan. Lucunya, aku sering lihat orang yang gemuk dengan alasan emang bakat dan atau tulang besar, tapi postingan sosmednya foto makanan mulu dengan caption “Makan terus, kapan dietnya?” Hadeeh. Jawab sendiri lah.


Follow me on Instagram and Facebook.
Email: istharpelle@gmail.com
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About Me


Hello!
My name is Isthar Pelle.
I started blogging out of hobbies and I feel so grateful that I am able to help people who read my posts.
If you have anything to say, please feel free to leave comments or contact me through my socials!

Thank you so much!
Xo,
Isthar Pelle

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube

Categories

  • Acne (6)
  • Artikel (14)
  • Beauty Trick (3)
  • DIY (3)
  • Hair (2)
  • Health (4)
  • Review (21)
  • Tips (11)

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • April 2021 (1)
  • Februari 2019 (1)
  • Januari 2019 (1)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (3)
  • April 2018 (2)
  • Februari 2018 (2)
  • Januari 2018 (1)
  • Agustus 2017 (6)
  • Juli 2017 (5)
  • Maret 2017 (1)
  • Januari 2017 (1)
  • Desember 2016 (4)
  • September 2016 (3)
  • Juli 2016 (5)
  • September 2015 (1)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates