Diberdayakan oleh Blogger.
YouTube facebook twitter instagram Email

Mad Belbie




Jadi ceritanya beberapa hari yang lalu tiba-tiba area miss cheerfull-ku gatel-gatel. Tadinya kukira gatal biasa yang paling nggak sampai semenit juga ilang. Ternyata sampai besoknya masih. Nggak ada tanda-tanda penyakit berbahaya lain sih. Cuma gatel aja. 

Keputihan? Enggak. Aku nggak juga nggak pernah punya riwayat keputihan sebelumnya.
Bau tidak sedap? Enggak. Nggak bau sama sekali malah. Bahkan bau pesing pun enggak.
Cairan yang tidak wajar? Nggak ada.
Pendarahan? Apa lagi.
Bintik-bintik? Nggak ada juga. 

Pokoknya nggak ada yang aneh, cuma gatel aja. 

Penyebab Miss V Gatal?

Aku masih belum bisa menyimpulkan sih, ada beberapa teori. Bisa jadi karena jari yang nggak bersih pas pegang-pegang area kewanitaan. Bisa jadi karena aku pakai celana dalam yang bahannya bukan katun. Bisa jadi karena aku pakai celana emesh yang emeshnya emesh anet jadi kayak ketat gitu. Bisa jadi karena daya tahan tubuh lagi menurun. Atau bisa jadi juga semua hal itu sekongkol dan bersama-sama menciptakan rasa gatel.

Mengganggu banget sih enggak. Cuma kan ya gatel aja sih. Huhuhu. Bikin susah konsentrasi jadinya. Lagi makan, gatel, lagi baca buku, gatel, lagi kirim paket, gatel. Mana kalau lagi di tempat umum gitu jadi berasa nggak nyamannya banget-banget. 

Akhirnya aku memutuskan untuk beli pembersih organ kewanitaan. 

Aku udah lama nggak pakai-pakai produk kayak gini, karena katanya sabun kewanitaan itu kalau dipakai tiap hari malah nggak bagus. Jadi aku selama ini ya bersihin cuma pakai air aja. Yang penting air bersih, trus jaga kebersihan juga, ganti celana dalam sehari dua kali (meskipun nggak mandi aku tetep ganti, hahaha). Kalau malam mau tidur biasanya aku bersih-bersih, cuci muka, sikat gigi, sekaligus ganti baju sama daleman. Kalau nggak gitu bakal makin susah tidur soalnya. 

Nah, berhubung gatel-gatel kali ini agak lama (dua hari) dan aku takut kalau dibiarin malah bisa menimbulkan akibat lain (gatal lebih parah, dsb) akibat aku nggak kontrol dan nggak sadar menggaruk, misalnya. Jadi aku memutuskan untuk beli produk pembersih area kewanitaan. 

Pilihanku antara dua: Resik-V Godokan Sirih, atau Betadine Feminine Hygiene. Pertimbangannya, kalau Resik-V Godokan Sirih kan mengandung sirih yang emang bagus buat kesehatan vagina. Tapi aku nggak tahu itu bener-bener ekstrak sirih atau sabun. Kalau Betadine Feminine Hygiene, dia lebih kayak obat. Mengandung povidone iodine buat membunuh jamur penyebab gatal. 

Pilihanku jatuh ke Betadine Feminine Hygiene, karena aku jadi mikir jangan-jangan ini gatal disebabkan oleh jamur? 



Aku beli di apotek. Segini (60ml) harganya Rp. 24.500. Botolnya emang kelihatan besar, tapi isinya nggak sebanyak itu karena dia cair. Warnanya merah gitu, kayak betadine yang obat luka. Baunya juga sama kayak betadine yang obat luka. 

Cara Pakai Betadine Feminine Hygiene

Kalau menurut petunjuk penggunaan di kemasannya sih, larutkan satu tutup (8 ml) Betadine Feminine Hygiene ke setengah gayung air, trus dipakai buat membasuh miss V.
Untuk pengobatan, gunakan dua kali sehari selama lima hari berturut-turut. 

Jadi menurutku ini sifatnya obat ya. Nggak boleh dipakai harian. 

Pertama pakai, aku ikuti petunjuknya persis. Aku larutin dulu satu tutup botol ke setengah gayung air, aku pakai buat basuh, diemin satu menit, baru bilas lagi pakai air bersih. 

Emang langsung enakan sih. Gatelnya berasa kalem dan adem. Pas di pakai juga nggak ada sensasi perih atau apa. Tapi kalemnya nggak lama. Beberapa jam kemudian gatalnya datang lagi. Aku pakai lagi. Adem lagi, trus gatel lagi sampai dalam kurun waktu semaleman itu aku ulang sampai tiga kali.
Kan kayak nggak berfungsi ya?

Trus aku mikir, gimana sih kalau aku nggak ikutin petunjuknya persis? Jadi aku pakai langsung gitu tanpa dilarutkan dulu, langsung buat bersihin pas area yang gatel. Ini nggak sesuai petunjuk ya, jadi aku nggak sarankan. 

But it works. Setelah pakai tanpa dilarutin ke air dulu, gatelnya nggak balik lagi. Ini aku nulis baru hari kedua pakai (baru sekitar lima kali pakai), dan aku nggak merasa gatal sama sekali seharian ini (padahal tadi malam masih). 

Bonusnya, miss V-ku terasa nyamaaaaaaaan banget. Aku nggak inget deh apa sebelum gatel juga sebenernya senyaman ini, atau hanya perasaanku aja? Yang jelas sekarang gatelnya udah nggak balik lagi. 

Tapi aku masih akan pakai terus produknya sampai lima hari. Just to make sure. (Ctt: akhirnya nggak sampai lima hari sih. Tiga hari doang udah bener-bener nggak gatal trus aku nggak pakai lagi, hahaha).

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Untuk Menjaga Miss V Tetap Sehat

Jadi lenyapnya rasa gatal di miss v-ku itu bukan semata karena kerja Betadine aja, tapi juga karena aku melakukan banyak perubahan. 

Pertama, aku pakai celana dalam bahan katun, bukan nilon atau yang lain, dan yang nggak terlalu ketat. Emang sih, nggak terlalu lucu atau seksi. Tapi kan demi kesehatan. Lagian seksi-seksi juga nggak ada yang lihat ini. Hahaha. 

Kedua, aku pakai celana yang longgaaaaar. Celana emesh pensiun dulu. Jadi cuma pakai celana kolor aja gitu. Hihihi. Ya emang sih nggak keren banget dan kelihatan nggak rapi, tapi sekali lagi, demi kesehatan. Kalau pergi-pergi ke luar aku pakai rok, biar tetep unyu. 

Ketiga, aku lebih menjaga kebersihan. Kamar mandi aku sikat lebih teliti, mandi lebih rajin, dan mengeringkan vagina sampai benar-benar kering setiap habis pipis (karena miss v lembap adalah lingkungan yang disukai jamur).

Keempat, aku minum Yakult. Probiotik baik buat melawan bakteri jahat. 

Kelima, aku makan lebih banyak, dan minum air putih lebih banyak. Karena kekurangan nutrisi juga bisa menjadi salah satu penyebab gatal-gatal ini. 

Keenam, ini yang terpenting: nggak menyentuh-nyentuh miss V apalagi dengan jari kotor. Aku juga jadi rajiiin banget cuci tangan dan menjaga kebersihan seluruh area kamar termasuk lantai (soalnya kan kadang aku duduk lesehan di lantai gitu aja). Pokoknya semuanya harus sebisa mungkin diusahakan bersih. 

Hasilnya ya emang terasa banget. Miss V-ku sekarang jadi terasa bersih, sangat-sangat nyaman, dan yang terpenting, nggak gatal-gatal lagi. Yaaay! 

Sebenarnya sih gatal-gatal kayak gini adalah hal yang wajar yang pasti pernah dialami semua wanita di muka bumi. Penyebabnya bisa macem-macem. Bisa karena jamur, bakteri, kotor, atau bahkan menurunnya produksi estrogen menjelang menopause. Jadi nggak perlu khawatir berlebihan. 

Kecuali emang gatalnya parah banget dan berlarut-larut ya. Apalagi kalau dibarengi dengan gejala lain seperti misal, keputihan, bau tak sedap, bintik-bintik, pendarahan, luka, dsb. Kalau kayak gitu sih mending langsung ke dokter aja biar bisa dapat diagnosis dan penanganan yang tepat. 

Miss V itu salah satu organ terpenting buat cewek. Aset berharga. Wajib dijaga kesehatannya. Setuju??

Kalau kalian, biasa bersihin Miss V pakai apa?
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



               Setelah sebelumnya cerita soal pengalamanku ngecat rambut sendiri pakai cat rambut merek Miranda, aku rupanya lagi-lagi tergoda buat diy cat rambut. Hihihi. 

Baca: Review Bleaching dan Cat Rambut Miranda 

               Kali ini untuk alasan yang masuk akal, yaitu, sisa cat kemarin udah luntur banget sampai rambutku udah jadi coklat dengan sedikit hue ungu kemerahan. Ini yang di bagian atas kepala jadi sungguh terlihat alay dan kayak anak yang hobi panasan di lapangan menanti disamber petir karena pengen merokok tapi korek gasnya abis. -_- *abaikan contoh yang sama sekali nggak mendidik ini

               Kali ini aku nggak jauh-jauh ke toko kosmetik dan peralatan salon terlengkap segala. Aku ke toko deket kos yang jual aneka macam kebutuhan termasuk cat rambut juga ada. Karena aku udah trauma sama Miranda, aku nyobain cewek lain (ini istilah yang sungguh apa banget) bernama Samantha. Aku maunya biru tua. Pikirku kalau dikasih biru bakalan nutup yang bagian atasnya biar nggak alay-alay amat. Kalau seandainya fail juga, warna biru di atas warna lunturan yang kemarin bakalan jadi ungu gelap. Mayan lah, pikirku. Seenggaknya biar jangan dikira biduan dangdut lagi kayak kasus di salon kemarin. 

Baca: Belbie Potong Rambut di Salon
               Tapi yang biru ternyata nggak ada. Adanya ungu tua. Karena ungunya mendekati biru, aku putuskan untuk “Oke, nggak apa-apa.” Harganyaa sedikit lebih mahal. Rp. 9.000. Aku nggak tahu sih itu harga standar atau kalau beli di toko kosmetik kemarin bakalan lebih murah karena sana emang terkenal murah. Hehehe. 

               Enggak masalah sih, beda seribu maratus doang. Kalau repot-repot ke toko kosmetik terlengkap itu naik gojek malah ongkos bolak balik bisa kena tiga puluh ribu. #gadisyangpenuhperhitungan

               Aku beli sebungkus doang. Soalnya niatnya cuma nutup yang bagian atas aja. Yang bawah biarin lah. Anggap aja emang sengaja bikin sombre. Heuheu.

               Penampakannya kayak gini nih. Lagi-lagi pakai foto comotan karena pas aku nulis ini, bungkusnya udah kadung minggat ke tempat sampah. 


               Keesokan harinya (karena ini aku belinya malem-malem), aku langsung terapkan. Aku udah siap-siap kalau kalau isinya hoax lagi. Ternyata enggak. Yang muncul ungu persis kayak di bungkusnya.

               Sampai sini aku belum mau terlalu bahagia karena siapa tahu aja pas diaplikasikan hasilnya nggak sama ya kan. Hihihi. #gadisyangpenuhprasangka

               Oke deh, aku aplikasikan perlahan bak kapster professional berbekal kantong plastik yang diikat untuk melindungi tangan. Harusnya kan pakai sarung tangan gitu, tapi aku terlalu malas untuk membeli. 

               Ternyata warnanya pekat banget dan langsung nutup. Bahkan saking efektifnya, yang niat semula sebungkus cuma buat bagian atas, ternyata bisa mengcover seluruh rambutku. Mungkin karena rambutku udah dipotong juga sih ya, jadi nggak sepanjang yang kemarin. 

               Setelah rapi rata, aku diemin selama tiga puluh menit sesuai petunjuk di bungkus. #cahtekstual

               Kalau Miranda udah hadir sepaket sama conditioner, Samantha enggak. Cuma krim pewarna sama developer aja. Tapi pas keramas, anehnya rambutku lembut bangeeeeet. Nggak kerasa kasar. Kalau yang kemarin kan sambil ngebilas juga kerasa di tangan kasar banget. 

               Tapi udahannya aku tetep pakai conditioner sih. Pantene yang repair. 

               Hasilnya, rambutku jadi jauh lebih lembut lagi, enteng, dan nggak kusut sama sekali. Pas masih basah warnanya nggak kelihatan. Malah jadi kayak habis dicat item. Pas udah kering, baru kelihatan hue ungunya. Persis plek kayak gambar covernya. Lahh, iniiiih, baru cat raambut anti hoax.  Padahal harganya juga murah ma meeen. Cuma beda seribu maratus dari Miranda. Tapi impresi awal udah bikin deg-degan. Ini kalau diterus-terusin bisa-bisa sampai pelaminaan. *hoiiiii -,-

Aslinya warnanya lebih bagus dari ini. Tapi berhubung kamera hapeku itu aneh, bikin yang udah jelek makin jelek, jadi di foto ini malah agak kemerahan. Aslinya ungu banget. 



               Tapi ini bisa jadi karena aku pilih warna gelap sih. Kalau warna gonjrengnyaa belum tahu. Apakah semuanya sesuai atau bisa jadi hoax juga. Yang jelas, untuk warna yang ini aku puas banget nget. Sesuai ekspektasi. Malah melebihi ekspektasi ding, secara tadinya aku sempat nggak berharap banyak. 

               Mungkin itu kali ya, rahasianya. Jangan berharap, maka kau akan terhindar dari kekecewaan. Heu heu. 

Pro:


  • Murah meriah, Cuma Rp. 9.000. Kalau di toko besar mungkin lebih murah.  
  •  Enak banget diaplikasikannya, gampang. Nggak berantakan.
  • Warnanya nutup bagus.
  • Sesuai ekpektasi. Bukan hoax.
  • Bau amonianya nggak terlalu nyengat.


Cons:

               Nggak ada. Aku puas banget sama semuanya. Warnanya sesuai, diaplikasikannya gampang, nutup sempurna, rapi. Bahkan satu bungkus itu cukup buat seluruh rambutku. 

               Kalau ada yang aku rada nggak suka, itu karena adonan yang nggak sengaja nempel di kulit susah banget diilanginnya. Meskipun dicuci berkali-kali mulai dari level lemah lembut keibuan, sampai kasar kepreman-premanan, masih ada sisa ungu di ujung jari. Ini kalau yang nggak tahu kan bisa-bisa aku dikira habis pemilu. 

               Tapi ya nggak apa-apa sih, salahku sendiri juga karena yang pakai pengaman kantong plastik cuma tangan kiri, tangan kanannya enggak. 

               Sama ada sisa noda yang nempel di kening dan leher juga. Ini jadi pelajaran, kalau sebelum mewarnai, daerah kulit yang deket-deket rambut itu dikasih krim/lotion buat mencegah noda yang tak diinginkan. 

Kesimpulan akhir:

               Puas banget! Top lah si Samantha ini. Mungkin kalau di kemudian hari aku ada keinginan buat mewarnai rambut sendiri lagi, aku akan beli Samantha. Mungkin next time kita coba warna gonjrengnya. :D

               Dan dengan berakhirnya kalimat barusan, menandakan bahwa kita telah sampai di penghujung review cat rambut Samantha ini. Gimana menurut kalian? Suka mewarnai rambut sendiri juga nggak? Cerita dong, rekomendasi cat rambut yang menurut kalian top banget dan gampang kalau diaplikasiin sendiri.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



               Biasanya aku selalu ngetrim rambut sendiri. Tapi ndelalahnya kemarin aku lewat salon dan tergoda buat ngetrim di salon. Itung-itung rapihin bentuknya juga karena udah lama rambutku nggak ada bentuknya. Hahaha. Trus beloklah aku ke salon itu. 

               “A trim mba, please. Dikit aja ya. Cuma ujungnya sama rapihin bentuknya dikit,” kataku.
               “Oke,” jawab mbak salon mantap tanpa keraguan. 

               “Segini mbak?” tanyanya sambil menunjukkan ujung yang mau ditrim sekitar 2-3 centi meteran.
               “Sip!” jawabku nggak kalah mantap. 

               Tapi saking semangatnya si mbak salon ngobrol, tanpa kusadari, rambutku bukannya ditrim dong. Melainkan dichop. Banyak banget, sampai sekarang rambutku jadi pendek begini. Wkwkwk. 
Hasil potongannya seberapa, kalian bisa lihat fotonya di posting Review Cat Rambut Samantha.

               Hyaaa. Sia-sia sudah perjuangan dua tahun manjangin. T__T Bye-bye cita-cita jadi Rapunzel. 

               Kalian tahu nggak, hal apa yang diobrolin si embak begitu hebohnya sampai-sampai nggak sadar kalau motongnya kebanyakan (banget)? Awkarin! Yes, mbaknya ternyata trawblemaker garis keras gitu. Ngefaaans banget sama si Aw. 

               “Aku kan follow dia di Ige, Mbak. Heuheuheu,” katanya bangga.
               “Oh.” 

               “Mbaknya sayangnya kok cungkring banget sih? Padahal mirip Awkarin. Coba isi dikit. Pasti makin mirip,” katanya polos yang kalau saja aku nggak lagi duduk, pasti udah bikin aku kejungkel. 

Tapi aku paham. Jadi di sini masalahnya. Selama ngguntingin rambutku mbaknya kepikiran Awkarin terus sampai-sampai nggak sadar motong rambutku jadi sependek punya Awkarin gitu? Baiklah. -_-

               “Rambutnya habis dicurly ya, Mbak?” tanyanya.
               “Enggak,” jawabku.
               “Oh, habis diroll?”
               “Enggak,” jawabku lagi.
               “Oh, pas masih basah dipuntirin ya?”
               “Enggak,” jawabku lagi. Sabar. Nanya satu pertanyaan berjawaban enggak lagi, kukasih payung cantik juga nih.

               “Kok kriwil-kriwil?” tanyanya. Oke, bukan hari keberuntungan si Embak.
               “Rambut asliku emang kriwil kayak gitu, Mbak.”
               “Ooooh. Tapi kok poninya kayak gini sih?” tanyanya mencurigakan.
               “Hahaha, aku potongin sendiri.”

               “Mbak, plis deh. Rambutnya cantik-cantik poninya dipotongin sendiri. Aku benerin ya.”
               Dan sebelum aku sempet menjawab, guntingnya sudah beraksi. Cekrik cekrik cekrik. 

               Mbaaaa, what are you doing to my bangs????

               “Nah, gini kan sekarang cantik,” komentarnya puas.
               But, but, but … well, mungkin emang cantik kalau buat cewek-cewek lain. Tapi poni kayak gini aku nggak terlalu suka. Tujuan utama aku berponi kan untuk menutupi aib jidat jenong. Huhuhu. 

               Pas udah selesai, aku sempet terpaku menatap kaca. Aku merasa kehilangan. 

               “Cantik kan, Mbak?” tanya mbak salon.
               “Hahaha. Iya”. 

               Oke lah, aku pasrah aja. Udah terlanjur ini. Masa aku minta ekstension poni? Ha ha ha. 

               Lagian jadi kelihatan kalau habis potong rambut dan kelihatan fresh aja sih, ganti penampilan ya kan? Aku sih positif anaknya. Soal poni, gampang lah. Bentar lagi juga numbuh. 

               Trus bareng sama aku ada ibu-ibu gitu yang habis menghitamkan rambutnya.
               “Wis tua ra gelem ketok tua,” komentarnya pada diri sendiri.
               “Suka ikut nyanyi-nyanyi nggak, mbak?” tanya ibunya ke aku.
               “Hah? Enggak,” jawabku sambil mikir ‘Emang penampilanku kayak biduan ya?’.

               “Cah sekolah jaman saiki kan senenge melu nyanyi-nyanyi. Wingi ning hajatan ana penyanyine ki isik cilik banget. Tur kayane isin kae, Mbak,” terangnya. Aku ketawa aja. 

               “Kelas berapa?” tanyanya lagi.
               “Walah, udah nggak sekolah, bu.”
               “Oh, kerja?” tanyanya lagi.
               “Iya,” jawabku.
               “Udah berapa lama kerjanya?”
               “Emm, udah lama banget. Saya udah 27.”
               Ibunya bengong. Mbak salon bantu nerjemahin.
               “Umure mpun 27, bu.”
               “Ooooh, lha kok isik cilik kaya cah SMA.”
               “Heuheuheu. Makasiiih,” jawabku ge-er. 

               Aku nggak tahu dari keseluruhan adegan itu mana yang lebih gubrak. Dibilang mirip Awkarin atau dikira biduan. Wkwkwk. Tapi aku mau fokus ke kesalahpahaman ibunya aja lah. Mayan, dikira masih SMA. Berondong mana berondong?
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About Me


Hello!
My name is Isthar Pelle.
I started blogging out of hobbies and I feel so grateful that I am able to help people who read my posts.
If you have anything to say, please feel free to leave comments or contact me through my socials!

Thank you so much!
Xo,
Isthar Pelle

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube

Categories

  • Acne (6)
  • Artikel (14)
  • Beauty Trick (3)
  • DIY (3)
  • Hair (2)
  • Health (4)
  • Review (21)
  • Tips (11)

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • April 2021 (1)
  • Februari 2019 (1)
  • Januari 2019 (1)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (3)
  • April 2018 (2)
  • Februari 2018 (2)
  • Januari 2018 (1)
  • Agustus 2017 (6)
  • Juli 2017 (5)
  • Maret 2017 (1)
  • Januari 2017 (1)
  • Desember 2016 (4)
  • September 2016 (3)
  • Juli 2016 (5)
  • September 2015 (1)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates